Rabu, 03 Februari 2010

Penyakit Diabetes Mellitus

Mengenal Lebih Dekat Penyakit Diabetes Mellitus

Pada postingan ini, kami akan merefleksikan kembali tentang artikel Diabetes Mellitus secara detail dan lebih dekat, dengan menampilkan patofisiologis yang terjadi pada diri pasien, terapi hingga pencegahannya.

I. SISTEM ENDOKRIN

Sistem saraf bekerja dengan perantara impuls elektrik dan neurotransmitor yang berfungsi menghantar impuls antar saraf. Sistem Endokrin bekerja dengan perantara suatu senyawa kimia yang dikenal dengan hormon. Senyawa ini akan membawa pesan dengan fungsi tertentu melalui aliran darah menuju ke suatu jaringan atau organ.

Sistem endokrin bekerja lebih lambat dibanding dengan sistem saraf, dimana proses produksi, sekresi, transport dan eliminasi hormone dalam darah akan membutuhkan waktu lebih panjang. Hal ini berbeda dengan sistem saraf, yang perambatan dan pengiriman sinyal terjadi dengan sangat cepat.


Senyawa hormon diproduksi oleh suatu kelenjar didalam tubuh dan akan bekerja di tempat lain, yaitu pada target jaringan dari suatu target organ. Suatu hormon dapat merangsang (induksi) atau menghambat (inhibisi) fungsi suatu sel.

Hormon yang sama dapat mengakibatkan efek yang berlawanan terhadap target sel yang berbeda, tergantung fungsi sel tersebut.Sel-sel yang mampu memproduksi hormon disebut sel-sel Endokrin. Sel-sel tersebut dapat berlokasi pada berbagai tempat di dalam tubuh. Bila sel tersebut berkelompok, kita sebut

Diabetes Mellitus (Insulin & Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus)

Sebagaian Kelenjar Endokrin dan struktur ini mengeluarkan produk yang disebut Hormon. Produk ini tidak dikeluarkan oleh kelenjar melalui suatu saluran khusus, akan tetapi langsung disekresikan ke dalam aliran darah. Dengan demikian kelenjar endokrin disebut juga kelenjar tanpa saluran.

Didalam tubuh banyak terdapat sel-sel kelenjar yang menghasilkan produknya melalui suatu sistem saluran dan tipe kelenjar ini disebut Kelenjar Eksokrin. Suatu kelenjar dapat berfungsi sebagai kelenjar eksokrin dan endokrin. Contoh kelenjar jenis ini adalah Kelenjar Pankreas. Kelenjar ini selain memproduksi hormon insulin dan glukagon, juga memproduksi enzim-enzim yang dibutuhkan untuk pencernaan makanan dalam usus.

II. KELENJAR PANKREAS

Kelenjar Pankreas adalah kelenjar yang bersifat eksokrin dan endokrin. Sebagai kelenjar eksokrin, kelenjar pankreas memproduksi getah pankreas (pancreatic juice) yang mengandung enzim-enzim dan berguna untuk pencernaan makanan. Getah pankreas ini disalurkan melalui saluran pancreas, masuk ke dalam usus dua belas jari dan mengambil bagian dalam proses pencernaan.

Sebagai kelenjar endokrin, pancreas memproduksi dan mensekresi tiga jenis hormon peptida secara langsung dalam pembuluh darah : Hormon Insulin, Glukagon, Somatostatin. Insulin dan glukagon adalah hormone pankreas yang paling penting. Hormon-hormon tersebut bekerja berlawanan pada hati dalam mengatur kadar gula darah.

Secara topografinya, pankreas terletak dalam rongga abdomen, berada di belakang organ lambung dengan ukuran panjang kurang lebih 15 cm. Histologi kelenjar eksokrin terdiri dari sel-sel

Diabetes Mellitus (Insulin & Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus)

Asiner pancreas dan memproduksi cairan getah pankreas sedangkan kelenjar endokrin terdiri dari kelompok sel-sel endokrin yang tersebar di seluruh pancreas. Kelompok sel ini dikenal sebagai Panceratic Islets atau Pulau Langerhans (Islets of Langerhans).
Secara histologis, sel Langerhans terdiri dari tiga jenis tipe sel : sel Alfa memproduksi glukagon, sel Beta memproduksi insulin, dan sel Delta memproduksi somatostatin, dimana sel Beta merupakan sel dominan dalam kelompok sel Langerhans.

Insulin

Hormon insulin bekerja pada berbagai jenis sel. Efek yang terjadi dapat berupa merangsang ambilan (up take) senyawa glukosa atau asam amino masuk sel ataupun merangsang perubahan glukosa dan asam amino menjadi molekul yang lebih besar seperti protein, lemak dan glikogen.

III. PATOFISIOLOGIS DIABETES MELLITUS

Kelainan / hipofungsi kelenjar pancreas dalam mengsekresi insulin menyebabkan suatu keadaan dimana pancreas mengalami defiesiensi yang akan menyebabkan penyakit Diabetes Mellitus (DM). penyakit ini ditandai dengan tingginya kadar gula darah yang terus menerus secara abnormal disertai adanya ekskresi glukosa bersama urin.

Diabetes Mellitus dianggap merupakan suatu sindrom klinis dan bukan penyakit tersendiri, dengan karakteristik berupa gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein akibat kurangnya persediaan insulin. Diagnosis ditentukan dengan pemeriksaan kadar gula darah dan di Indonesia sesuai dengan Konsensus Pengelolaan Diabetes di

Diabetes Mellitus (Insulin & Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus)

Indonesia (PERKENI-1998), maka batasan nilai diagnostik adalah sbb ;

Gula Darah Sewaktu & Puasa


PARAMETER Bukan DM Belum pasti DM Diabetes Mellitus
Kadar Gula Sewaktu <> 200
Kadar Gula Puasa < 110 110 - 125 ≥ 126


IV. DIABETES MELLITUS TIPE 2

Klasifikasi Diabetes Mellitus

Menurut American Diabetes Association – 1997, bahwa etologi Diabetes Mellitus diklasifikasikan menjadi 2 yakni :

A. Diabetes Mellitus tipe 1 / IDDM
(Insulin Dependent Diabetes Mellitus), tipe ini disebabkan oleh detruksi sel beta pada pankreas, dan umumnya menjurus ke defisiensi insulin yang absolut. Terjadi karena proses imunologik dan Idiopatik serta banyak trjadi pada pasien usia muda.

B. Diabetes Mellitus tipe 2 / NIDDM
(Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus), tipe ini bervariasi mulai yang predominan resistensi disertai defisiensi insulin relative sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin. Sering terjadi pada pasien usia lanjut.

Angka Prevalensi Kejadian di Indonesia

Angka prevalensi Diabetes Mellitus di Indonesia berkisar antara 1.4 – 1.6 % kecuali di Manado (6%). Penelitian di kelurahan Kayuputih yang merupakan contoh daerah perkotaan menghasilkan angka prevalensi sebesar 5.6%, sedangkan di daerah pedesaan Jawa Barat sebesar 1.1%.

Di Indonesia pasien Diabetes Mellitus tipe 2 merupakan diabetes yang paling ditemukan, sedangkan diabetes tipe 1 jarang ditemukan. Tendensi kenaikan tingkat kekerapan penyakit Diabetes Mellitus (terutama tipe 2) disebabkan :

1. Faktor Demografi (Peningkatan jumlah penduduk, Peningkatan penduduk dengan usia 40 tahun, Urbanisasi)
2. Gaya hidup kebarat-baratan (Income perkapita tinggi, Banyak restoran siap saji/ fast food, Kurangnya olahraga / sedentary lifestyle)
3. Berkurangnya penyakit infeksi dan kurang gizi.

Gejala Diabetes Mellitus


Gejala klasik yaitu rasa haus berlebihan (polidipsia), sering buang air kecil (poliuria) terutama malam hari dan berat badan yang turun dengan cepat. Disamping itu kadang-kadang ada keluhan lemah, kesemutan pada jari tangan dan kaki, cepat lapar (polifagia), gatal-gatal, penglihatan kabur, gairah seks menurun, luka sukar sembuh dan pada perempuan sering melahirkan bayi diatas 4 kg.

Kekurangan insulin menyebabkan peningkatan metabolisme lemak dan berakibat akumulasi asam keton. Kondisi ini dinamakan ketoasidosis. Napas yang berbau aseton dan ditemukannya aseton sert asam asetat dalam urine, merupakan faktor penting ketika diagnosis.

V. KOMPLIKASI DIABETES MELLITUS

Pada dasarnya penyakit DM merupakan penyakit gangguan sirkulasi darah ke jaringan dengan segala akibatnya :

A. Pada Mata : Retinopati Diabetik, Katarak

B. Pada Susunan Saraf : Neuropatik Perifer

C. Pada Pembuluh Darah : Aterosklerosis yang mengenai arteri koroner dan pembuluh perifer. Luka membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh akibat suplai darah yang buruk, gangren jari-jari merupaka komplikasi yang serius.

D. Pada Ginjal : Diabetes dalam jangka lama (10-15 tahun) akan menyebabkan fungsi ginjal dapat berlanjut menjadi gagal ginjal kronis.

E. Hipertensi

F. Infeksi Kulit

Kontrol gula darah dengan hidup sehat (diet + olahraga), obat, insulin sangat bermanfaat mencegah komplikasi. Komplikasi yang merupakan dan penyebab kematian paling sering adalah infark miokard dan gagal ginjal kronis.

VI. PENANGANAN DIABETES MELLITUS

Tujuan pengelolaan DM adalah mempertahankan kadar glukosa dalam darah. Pilar utama pengelolaan DM tersebut adalah :

o Perencanaan Makan
o Latihan Jasmani
o Pengelolaan Farmakologis
o Penyuluhan

Perencanaan Makan
Beberapa prinsip ialah :
- Komposisi makanan yang seimbang (Karbohidrat 60-70%, Protein 10-15%, Lemak 20-25%)
- Jumlah kalori sesuai pertumbuhan, status gizi, umur, adanya stres akut dan kegiatan jasmani untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal.
- Jumlah kandungan kolesterol < 300 gram/hari, terutama lemak tidak jenuh.
- Jumlah kandungan serat kira-kira 25 gram/hari.

Latihan Jasmani

Latihan dilakukan secara teratur (3-4 kali seminggu), sifat CRIPE (Continuous, Rhythmical, Interval, Progressive, Endurance training), sedapat mungkin mencapai 75-85% denyut nadi maksimal (220-usia) dan disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit penyerta.

Pengelolaan Farmakologis

Pengelolaan ini dapat dilakukan dengan pemberian obat. Terapi diabetes mellitus dengan obat dikategorikan menjadi 2 obat, diantaranya dengan Oral Antidiabetik dan Insulin, tergantung jenis/tipe diabetes mellitus yang diderita.

Jenis pengobatan dengan :

o Oral Antidiabetik, termasuk diantaranya :

- Golongan Sulfonilurea
Contoh : Chlorpropramide, Glibenclamide, Glicazide, Glimepiride, Glipizide, Gliquidone, Tolazamide, Tolbutamide.

- Golongan Biguanida
Contoh : Buformin, Metformin

- Golongan Inhibitor Alfa Glukosidase
Contoh : Acarbose, Voglibose

- Golongan Insulin Sensitizing
Contoh : Pioglitazone, Rosiglitazone

o Insulin

Penyuluhan

Penting diberi pengetahuan tentang diabetes dan penanganannya untuk mendapatkan hasil pengelolaan yang maksimal dan merupakan bagian integral dari perawatan pasien DM. Ingat! Diabetes hanya bisa di kendalikan, tapi tidak adapat diobati..
Semoga kita dapat mengendalikan kadar gula darah kita, kapan dan dimanapun!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar