Jumat, 12 Februari 2010

Osteoartritis Tulang Belakang

Posted by: Asiatronik Health
Osteoartritis Tulang Belakang

AddThis Social Bookmark Button

Pada saat mencapai usia pertengahan (sekitar 35 tahun), sebagian orang mulai didera oleh rasa nyeri pada tulang belakang, khususnya leher (servikal) dan punggung bawah (lumbal). Kedua bagian ini mengalami degenerasi karena banyak dipakai untuk gerakan menekuk ke depan atau berputar ke kanan dan ke kiri. Ibarat engsel yang sering dipakai sehingga karet peredam benturan atau gesekannya menjadi aus, bantalan sendi antar-ruas tulang belakang dapat mengalami hal yang sama.



Di antara tulang-tulang belakang leher/servikal dan punggung bawah/lumbal (yang pada leher terdapat 7 ruas dan pada punggung bawah 5 ruas) terdapat bantalan yang disebut diskus intervertebralis. Karena usia dan sering digunakan, diskus tersebut aus dan menipis sehingga ruas-ruas tulang saling bergesekan. Gesekan inilah yang menimbulkan peradangan dan pengapuran sehingga terjadi rasa nyeri.

Jika foto rontgen bagian yang sakit tersebut memperlihatkan penyempitan sela antar-ruas tulang belakang, dokter akan membuat diagnosis spondilosis atau osteoartritis (OA) tulang belakang. OA terjadi ketika tulang rawan yang melapisi tulang belakang mengalami peradangan dan pengapuran yang dinamakan bone spur atau osteofit.

OA yang ringan dan sedang biasanya dapat diredakan nyerinya dengan penurunan berat badan pada orang yang gemuk dan perubahan gaya hidup. Mandi berendam dengan air hangat, relaksasi, dan masase yang benar utk melemaskan otot dapat membantu. Fisioterapi seperti terapi vibrasi dan pemanasan dengan pemasangan kolar pada leher atau korset pada pinggang juga bermanfaat.

Jika rasa nyeri tidak tertahankan, dokter mungkin memberi obat pereda nyeri yang ringan seperti parasetamol dan ibuprofen. Bila tidak berhasil, obat golongan antiinflamasi nonsteroid (NSAID) bisa diresepkan. Hanya sayangnya obat-obat ini dapat memberikan efek samping seperti nyeri lambung atau bahkan perdarahan usus, gangguan jantung dan ginjal yang bisa membawa kegagalan pada kedua organ tersebut.

Karena alasan itu, the American Geriatric Society (AGS) lebih menganjurkan pemberian derivat opioid seperti morfin dan kodein pada pasien manula dengan nyeri OA yang tak tertahankan. Tentu saja pemakaian obat ini harus dibawah pengawasan dokter untuk menghindari efek adiksi dan efek samping seperti mual serta sembelit.

Obat oles seperti krim dan jeli juga bisa digunakan untuk meredakan rasa nyeri. Ada 3 macam unsur yang dipakai dalam obat oles: (1) mentol dan eucalyptus oil yang menimbulkan rasa panas; (2) capsaicin, zat kimia dalam biji cabai, yang menumpulkan impuls nyeri di sel saraf dengan menghambat kerja substansi P; (3) obat analgetik seperti metil salisilat dan NSAID seperti diklofenak dan piroksikam yang memberikan rasa dingin dan sedikit patirasa; dan (4) obat bius lokal seperti lidokain yang menumpulkan impuls saraf.

Jika semua tindakan di atas tidak menolong, maka anda akan dirujuk oleh dokter umum atau dokter keluarga anda ke dokter spesialis saraf, rematologi atau ortopedi/spine surgeon untuk menjalani pemeriksaan dan tindakan lebih lanjut. Pemeriksaan seperti MRI diperlukan untuk konfirmasi apakah anda tidak menderita HNP yaitu herniasi diskus yang menekan kolom saraf tulang belakang shg bisa menimbulkan kelumpuhan dan gangguan saraf lainnya. Tindakan invasif seperti penyuntikan obat anestesi, kortikosteroid atau bahkan pembedahan dapat pula dilakukan jika rasa nyeri terjadi karena HNP atau keadaan berbahaya lain seperti fraktur kompresi tulang belakang. Tentu saja semua keadaan ini baru dilaksanakan setelah dokter ahli mempertimbangkan manfaat-risikonya dan anda juga sudah menyetujuinya lewat informed-consent (penjelasan dokter yang diikuti kesepakatan tertulis dari anda).

Ns :dr Andryhartono, SpGK

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar